KISAH SANG PENGAMEN
Kupersembahkan kepada Ibu Tumariyah
Bunda tersayang yang bijaksana serta berjasa
Dengan segenap terima kasih dari lubuk hati yang terdalam
Kisah
Para Pengamen
Kata seorang
pengamen yang baik hati, pengamen juga mempunyai tanggung jawab melaksanakan
pancasila dan juga pengamen yang berada di bis-bis kota juga mencari nafkah
dirinya dan keluarganya disamping mencari nafkah para pengamen juga memberikan
peringatan apada penumpang supaya hati-hati dan jangan sampai ketiduran karena
dalam diri pencopet terdapat tangan bawah tanah yang mampu membongkarnya.
Perjalanan yang
mengesankan sekali dalam sejarah kehidupanku sedari kecil sampai 19 tahun ini
baru merasakan dan memberanikan diri pergi ke kota Surabaya tempatnya terminal
Bungurasih guna berjumpa dengan saudara kandungku yaitu kakakku. Dalam
perjalanan yang kesepian akan teman membuat perasaan ini melayang-layang
kemana-mana tanpa ku sadari terketuk hati untuk menuliskan sejarah baru karena
keberanian yang tak di duga.
Lorong kota
penuh dengan kehijauan dan bangunan yang besar dan tinggi yang tak ku tahu
milik siapa bangunan itu, megahnya juga tidak karuan. Akan tetapi, berbeda
dengan keadaan di dalam bis yang ku kendarai kalau tadi kesepian teryata datang
segerombolan pengamen yang melantunkan syairnya di tengah kesepian hingga
menjadi suasana jadi ramai, penampilan yang juga pas-passan, kotorangnyalah
yang mereka pakai dalam keseharian guna meraup nafkah dalam kehidupan inikah
syair dari segerombolan pengemes di dalam bis kota :
Perjalan ini
sepi wahai penumpanag…
Tiada yang
memperingati kecuali kami segerombolan pengemis bis kota…
Kami hanya
mengemis dari pada mencopet…
Kami lebih baik
di bawah atap dari pada di dalam hotel gelap…
Niat kami
hanyalah mengemis, meminta belas kasih dari penumpang…
Berapa
jumlahnya yang penting ikhlas dari pada nyopet uang rakyat…
Maka
hati-hatilah wahai penumpang jangan teledor karena bangunan…
Sesungguhnya
kamulah yang sebenarnya membangun bangunan itu, tanpa kau sadari…
Marilah merajut
mimpi bersama kita semua dalam satu bis ini…
Yaitu saling
memperingati, menghargai dan mengasihani…
Sampai disini
penumpang berilah secercah uang pada kami…
Begitulah syair
dalam bis kota dari kota ke kota yang juga mempunyai tanggung jawab diri meraih
mimpi menjadi fakta ilahi. Merebut mimpi mereka akan uang yang di butuhkan demi
dirinya dan keluarganya.
Dari cuplikan
tersebut banyak pelajaran yang ku petik darinya bahwasanya kehidupan jangan
sembarangan memaknai karena nafsu belaka dan ketahuilah bahwa hidup untuk mati
bukan hidup untuk hidup.
Wallahul Mawafiq Illa Aqwa Mitthariq
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh
Malang 20 April 2014
Malang 20 April 2014

Comments